Stasiun

Stasiun Lelaki tua yang kumal bau dan tulalit itu melakukan perjalanan pulang dengan kereta api pulang Alangkah indahnya kata itu Segala kerinduan akan masa lalu akan dapat terpenuhi Masa masa kecil yang b

Fairmont Singapore Room Deals, Photos Reviews The Fairmont Singapore is ideally situated at the crossroads of Singapore s business, cultural, entertainment, and shopping districts It offers luxurious guestrooms and suites, a collection of distinctive restaurants and bars, and ,sqf of prime meeting space all

  • Title: Stasiun
  • Author: Putu Wijaya
  • ISBN: 9793019247
  • Page: 457
  • Format: Paperback
  • Lelaki tua yang kumal, bau, dan tulalit itu melakukan perjalanan pulang dengan kereta api pulang Alangkah indahnya kata itu Segala kerinduan akan masa lalu, akan dapat terpenuhi Masa masa kecil yang bahagia seakan dapat diraih kembali dalam pelukan Dapatkah lelaki tua itu sampai ke rumahnya Tidak Ia sudah mencoba ratusan kali, tetapi tidak pernah berhasil Ia bahkanLelaki tua yang kumal, bau, dan tulalit itu melakukan perjalanan pulang dengan kereta api pulang Alangkah indahnya kata itu Segala kerinduan akan masa lalu, akan dapat terpenuhi Masa masa kecil yang bahagia seakan dapat diraih kembali dalam pelukan Dapatkah lelaki tua itu sampai ke rumahnya Tidak Ia sudah mencoba ratusan kali, tetapi tidak pernah berhasil Ia bahkan melihat mayatnya sendiri di rumahnya, dan para tetangga meyakinkan bahwa itu memang mayatnya Kembali ke stasiun ia akhirnya terpaksa mengangkat kopor dan berjalan tanpa kata ,Perjalanan ulang aliknya yang sia sia itu ia komentari sendiri sebagai sebuah puisi Sebuah puisi yang berkisah tentang perjalanan kembali ke akar yang selalu gagal, pencarian diri yang selalu luput Tetapi ia terus mencoba dan mencobanya, sampai akhir hayatnya Lingkar alur pencarian diri akan terus berputar sampai maut menjemputnya.

    One thought on “Stasiun”

    1. buku yang dikatai jorok, menakutkan, dll ini buat saya malah memberi beberapa inspirasia satu paragraf dari kata pengantar sang penulis yang telah benar-benar mengembalikan kepercayaan diri saat saya membutuhkannya dan ingin saya bagikan disini,'Dalam peristiwa mengarang saya, tak ada rasa susila, etika, moral, politik, kekuasaan, malu, bahkan juga agama yang membatasi. Bukan karena saya kuat, atau ingin kurang ajar. Justru karena saya lemah. Tak seharusnya dunia mengarang hanya dikuasai oleh or [...]

    2. Meski novel ini tidak terlalu tebal, isi ceritanya bisa dibilang berat. Bahkan saya butuh waktu 6 tahun untuk menamatkannya.

    3. Saudara saya selalu bertanya : "Sudah baca stasiun? Mudeng nggak maksudnya?".Karena rasa penasaran dan sedikit rasa sepi beberapa hari ini. Akhirnya saya putuskan untuk membaca buku ini.Baca cover belakang. "Hemm, menarik.". Baca 2 Kata Pengantar. "Hemm, Kelihatannya bakal beda ini isinya." Bagian 1, Bagian 2."Hemm, agak jorok isinya." Dst sampai bagian 7. "Ohh Mungkin begini maksudnya"Dst sampai halaman terakhir. "Cerita ini memang tidak akan pernah selesai."Oke. Apa saya perlu menyimpulkan apa [...]

    4. "Pernahkah kau merasa sunyi, ya sunyi seperti yang aku rasakan, padahal kamu mempunyai anak-anak, suami, pekerjaan, penghasilan, rumah, keluarga, teman-teman, rencana, masa depan, dan harapan. Sunyi semacam itu, yang tidak terjamah oleh kata-kata yang kasar, yang kukira dimiliki oleh siapa saja, datang padaku sepanjang malam dalam seluruh hidupku. Tatkala aku berbaring dalam kamar sendiri, dalam terang lampu yang samar, dingin kasur dan masa depang yang menakutkan. Sunyi ini, ingin kubagikan pad [...]

    5. Cerita ini dimulai dari monolog batin seorang tokoh yang mengucap "Ini puisi" saat melihat ke luar jendela melihat pohon, daun, awan, dan merasakan angin gerak angin dalam kesendiriannya; lalu diakhiri dengan gumam seorang tua "Ini puisi" setelah melihat adegan seorang gelandangan di tepian rel kereta mencekik seekor kucing hingga mati lalu melemparkan bangkai kucing itu ke dalam api yang menyala-nyala hanya karena hidungnya mencium aroma masakan yang digoreng dari kampung yang berada di sebelah [...]

    6. Buku 'berat' ini hanya kuberi 3 bintang karena penulis mengajak kita berjalan memutari stasiun dan meneropong berbagai bentuk kehidupan di dalam stasiun kumuh membuatku sedikit bingung, apa maksud dari penulis ini? Keterbatasan otakku memahami penuturan buku ini membuatnya menjadi kurang menarik dan membosankan.

    7. Sampai halaman terakhir, saya tetep nggak ngerti jalan cerita buku ini, haha. Mungkin bagi saya, buku ini memang bukan untuk dimengerti, hanya sekedar untuk dinikmati bahasanya. :)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *